Di depan rumahku ada seorang pedagang asal Sumatera Barat. Hari ini perantau muda ini sudah berlebaran.
“Bong, besok saya sudah mengakhiri puasa.Besok kami sekeluarga sudah berlebaran.” Ujarnya usai sholat Maghrib kemarin.
“Oh ya,…kalau begitu Selamat Berlebaran ya. Mohon saya dimaafkan lahir dan batin. Cuma saya juga minta maaf besok belum dapat berkunjung. Soalnya saya lebarannya hari Rabu.Dan sekedar mengingatkan besok mesjid akan masih sepi…tanpa kumandang takbir hehehe.” Kami pun bersalaman.
Memang di pulau kecil tempatku bermukim mayoritas penduduknya adalah muslim. Dalam hal menentukan tanggal lebaran setiap tahunnya selalu patuh terhadap keputusan pemerintah. Ini sudah menjadi tradisi. Walaupun sore kemaren sudah ada yang terlanjur merebus ketupat tetap saja lebarannya pada hari Rabu sesuai dengan keputusan pemerintah.
Padahal kita memandang bulan yang sama, padahal kita berpijak pada tanah yang sama. Padahal kita berhadist dengan hadist yang sama, pada hal kita ber-Alquran dengan Alquran yang sama. Semoga ke depan penetapan 1 Syawal tidak berbeda agar tetanggaku tadi bisa menikmati merdunya takbir di pagi lebaran dan tenggelam dalam khusyuk bersama saudara-saudara lainnya. Amin.
Puisi Shalawat : KH. Mustofa Bisri
Ya Rasulullah shalawat dan salam bagi Paduka
Dari kedua mataku yang menggenang air mata dan darah
Serasa kulihat manik-manik mutiara berkilauan di kedua mata Paduka yang indah
Paduka pasti terluka …memandang kelakuan kami,…. Paduka pasti berduka
Oh Rasulullah oh Kekasih
Ampun,…bukan kami hendak mempermalukan Paduka
Tapi kami tak sekuat Paduka
Dunia telah menguasai diri kami
Padahal Paduka telah berulang kali mengingatkan….
Kami terlalu memanjakan daging-daging dan mengabaikan sukma-sukma kami
Kami terlalu sibuk membela kepentingan sendiri
Berebut materi sambil meneriakkan nama-Nya dan nama Paduka
Maka kami pun tak bisa mendengar suara paduka yang merdu menghimbau penuh kasih sayang
Mengajak saling menyayang
Ya Rasulullah shalawat dan salam bagi Paduka
Mereka yang tak mau mendengar Paduka
Tak percaya kebahagiaan hakiki yang Paduka tunjukan
Telah mengejar kebahagiaan semu mereka sendiri
Dan mereka harus membuktikan kekeliruan mereka dalam kepahitan azab penderitaan
Oh alangkah malang,…oh alangkah sayang
Tak ada kebahagiaan pada daging yang dimanjakan
Tak ada kebahagiaan pada kepentingan sesaat
Tak ada kebahagiaan pada kepentingan sendiri yang dimenangkan
Tak ada kebahagiaan pada kenikmatan singkat
Tak ada kebahagiaan pada pada api yang membakar
Tak ada kebahagiaan pada darah yang tertumpah
Tak ada kebahagiaan pada dendam yang diumbar
Tak ada kebahagiaan pada kobaran amarah
Tak ada kebahagiaan pada puing-puing berasap
Tak ada kebahagiaan pada tangis dan ratap
Tak ada kebahagiaan pada gagasan kebahagiaan …kecuali yang telah Paduka tunjukkan
Oh Rasulullah oh Kekasih
Kami terlalu mencintai diri kami hingga mencelakakannya
Ternyata paduka lebih mencintai diri kami
Ya Rasulullah ….shalawat dan salam bagimu selalu
0 comments:
Post a Comment