“Yah,..hari ini Dinda puasanya penuh lho..?”
Tentu saja aku terkejut dengan ucapan anak bungsuku yang baru duduk di kelas 2 SD yang lahir pada tahun 2004 yang lalu.
“Wah hebat dong,..” ujarku dengan perasaan yang sangat bahagia. Bahagia karena mengingat aku tidak pernah menyuruhnya berpuasa penuh. Aku hanya menghimbau kepada anak-anakku untuk mencoba berpuasa setahannya. Dan Dinda di minggu pertama di bulan yang penuh berkah ini kuperhatikan hanya mampu berpuasa setengah hari,….itu pun setengah hari yang aneh karena jam 9 pagi sudah merengek minta makan. Tapi tidak di hari-hari belakangan ini menjelang tutupnya bulan seribu bulan.
Dan siang itu di tengah teriknya panas matahari, aku mencoba menggoda Dinda,….
“Din,..kalau lapar makan saja…?”
“Nggak lah Yah,…kan bedug maghrib belum bunyi ” jawab si bungsuku sambil terkekeh. Padahal kuperhatikan badannya lemes.
Jika saja nanti Dinda sudah akil baliq nanti tentu saja tugasku berikutnya adalah melengkapi pemahamannya tentang puasa bahwa :
Puasa itu tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Karena ada perintah untuk melatih kesabaran. Sehingga kita tidak perlu memarahi orang-orang yang belum berpuasa,….menutup warung-warung hingga yang terlihat hanya kaki-kaki yang tidak jelas. Seandainya saja warung-warung tidak tertutup mungkin saja jumlah kaki-kaki yang tidak jelas tadi akan berkurang karena tidak enak hati. Terlebih-lebih lagi jangnlah sampai melakukan sweeping “atas nama Tuhan”.
Bukankah Puasa itu antara aku dan Tuhanku ?
0 comments:
Post a Comment