Tak Ingin Jadi Anak Soleh

Tak ada yang berubah dengan lelaki itu, di usianya yang sudah lebih dari 60 tahun ia tetap ragu akan keberadaan Tuhan.

“ Terlalu sulit untuk memahami Tuhan itu. Semuanya abstrak, semu,….” Celetuknya

“ Jika memahami Tuhan hanya semata-mata dengan akal tentu akan susah “ kucoba menjawab untuk memancing reaksi berikutnya dari lelaki yang pemurah, suka memberi namun tangan kirinya tidak pernah tahu. Sungguh lelaki itu adalah seorang yang pemurah namun tak ramah.

Ia tak segera mengkomentari jawabanku tadi. Dilain hari ia juga memprotes hukum haram memakan babi. Ia menganggapnya itu hanyalah sebuah “kebijakan” dari seorang pria Arab yang bernama Muhammad yang memang tidak suka makan babi.

“Ngapain mengikuti kebijakan Muhammad,…lihatlah Yesus dan Budha tidak melarang makan babi. “

“ Jadi begini Pak Soleh,….hukum haram makan babi itu bukan kebijakan dari Muhammad SAW tapi tertulis dalam Alquran. Masalah ini tidak ada keraguan lagi. Bukankah sejak kecil Pak Soleh sudah tahu ? Mengenai ajaran Yesus tentang ini saya tidak tahu dan tidak punya kapasitas untuk menjelaskannya, tapi di dalam Kitab Perjanjian Lama Surat Imamat disebutkan bahwa :

Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. (11:7)

Dan juga pada Surat Ulangan :

Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya. (14:8).

“Lalu bagaimana dengan pendapat Budha ? Tanya lelaki yang memang bernama Soleh itu.

“Saya tidak tahu ajaran Budha pak Soleh,….tapi bukankah Budha menghimbau umatnya untuk tidak memakan semua yang berdarah ? Dan bukankah babi termasuk binatang yang berdarah ? Tapi ini hanyalah sebuah tafsir dari saya pak…...”

Soleh mengangguk dengan tatapan yang masih diselimuti keraguan. Dan sungguh aku tidak ingin menjadi anak Soleh atau menjadi seperti Soleh. Di usia senjanya masih tetap berkutat dengan keraguan terhadap keberadaan Tuhan.

“ Ya Allah jangan butakan hatiku, jangan tulikan telingaku,……untuk selalu menerima kebenaran dari Mu”

0 comments:

Post a Comment

My Blog List