West Wing Natuna On The Move (5)

Too many people try to predict the future based on the past. Try deciding what you want the future to hold, then create the ways to get it.......Waste no time in vain regrets,……….

Berhentilah mengeluh saudaraku....mari bersatu dan berjuang untuk memekarkan Natuna Barat !

Pak RT Balau yang tinggi besar berkopiah hitam, dari kursi barisan belakang tempat dudukku, sepintas nampak mirip seperti Bung Karno. Beliau sedang mendendangkan sebuah lagu pada acara syukuran pesta perkawinan yang kedua kalinya seorang seniorku. Suaranya lumayan merdu. Tak terdengar nada sumbang.

Memang hari itu sebenarnya adalah acara keluarga. Sebuah keluarga besar di Balau dan aku diundang. Tak satupun perempuan yang hadir yang tidak memakai kerudung kepala dan sangat sedikit para lelaki yang tidak memakai kopiah.

Disela-sela acara tersebut, sebagian lelaki yang duduk di barisan belakang sibuk bebicara tentang mengapa Natuna Barat harus dimekarkan ?.

“ Kita tidak menyesal bergabung dengan Indonesia,….” Ujar seorang kawan yang selalu kupanggil dengan sebutan Bong Raje, karena dia memang keturunan dari raja-raja melayu. Di Natuna sangat banyak keturunan raja-raja. Lalu ia meneruskan joke-nya …

“ Namun yang kita sesali mengapa nenek moyang kita memutuskan mau bergabung dengan Indonesia. Mengapa kita tidak bergabung dengan Malaysia atau Brunai saja.? Kalau dari dulu kita sudah bergabung dengan Malaysia atau Brunai mungkin kehidupan masyarakat kita sudah makmur dan bukankah budaya dan adat istiadat kita sama dengan mereka ? Letak geografis juga sangat mendukung.”

Aku hanya tertawa saja mendengar joke tesebut. Kalau dilihat dari realitas kehidupan masyarakat Natuna yang masih jauh dari sejahtera, tentunya joke tersebut mendekati kebenaran. Sebagai daerah penghasil migas yang terbesar di Indonesia bukankah sebuah keanehan jika masyarakatnya masih mencari kayu bakar buat menanak nasi ? Bukankah sebuah kenaifan ditengah jutaan kubik migas diangkut keluar Natuna, sementara sebagian besar masyarakatnya tidak pernah menggunakan gas dan setiap bulan terpaksa harus goduh dengan jatah minyak tanah ?

Dan deretan kekecewaan ini masih bisa ditambah dengan masalah rendahnya kulitas kehidupan masyarakat Natuna. Listrik yang tak cukup, air bersih yang tak bersih, dan tingginya tingkat kematian ibu-ibu melahirkan sampai kepada Puskemas Percontohan yang selalu tidak punya persediaan tabung oksigen saat dibutuhkan. Belum lagi masalah lapangan pekerjaan buat generasi muda yang sampai saat ini masih belum tersedia kecuali berharap selesai sekolah menjadi tenaga honorer di lingkungan Pemkab Natuna sambil berharap suatu saat dapat diangkat menjadi PNS.

If you want to be rich make your own business……nampaknya masih sangat jauh ……di Natuna if you want to be rich,…so jadilah PNS atau anggota DPRD.

“ Tapi bongjun khabarnya bupati tidak setuju dengan pemekaran ini ?” tanya bong Raja tanpa senyum.

Bersambung,………………….


Natunapedia :

Goduh = Gaduh=Ribut

0 comments:

Post a Comment

My Blog List