Kisah Sepanjang Jalan (3)



Di saat jam makan siang, kami berkumpul di bawah sebuah pohon yang cukup rindang untuk menyantap nasi bungkus dari warung Padang yang bernama Awak. Pekerjaan pengecoran jalan tersebut memang cukup melelahkan para pekerja. Dan saat makan siang adalah waktu yang tepat untuk berbagi cerita dengan sesama pekerja.

Sebetulnya kebanyakan dari mereka adalah para nelayan tradisional. Terpaksa harus bekerja sebagai buruh bangunan di saat laut tak lagi ramah seperti saat ini.

Pada saat lunch time di bawah pohon yang rindang di tepi jalan itulah aku mendengar banyak kisah tentang para pekerja yang barangkali luput dari hitungan Badan Pusat Statistik Kab.Natuna. Bahwa betapa masih banyaknya kemiskinan di kampung ini.

Dari 15 pekerja, 13 orang mengaku tidak punya tabungan sama sekali.

“ Bagaimana mau menabung bong,….penghasilan kami hanya cukup untuk memberi makan anak bini.”

Dan Sabtu kemarin 19/11/2011, kampung yang selalu damai tersebut kedatangan tamu dari Jakarta. Serombongan mahasiswa dari Indonesia Defense University (IDU) yang dipimpin oleh Mayjen TNI Ir. Ricardo M.H. Siagian, MT, Komandan Sekolah Manajemen Pertahanan (SMP).

Tentunya ini sebuah kehormatan bagi kampung kami. Dalam acara dialog dengan para intelektual muda harapan bangsa tersebut aku berkesempatan untuk menyampaikan,…atau tepatnya meneruskan curahan hati para pekerja di atas. Berusaha memberikan masukan tentang Inside Natuna. Fakta yang tidak akan kubungkus dengan indahnya bahasa.

Pak Mayjen Ricardo tentu tidak sedang berbasa-basi saat mengatakan bahwa beliau sangat kagum dengan kerukunan antar suku dan umat beragama di pulau Sedanau. Ada ungkapan di kampungku yang sangat popular untuk menggambarkan kerukunan dan kedamaian tersebut yaitu :

Cine ghaye melayu mabuk ( Orang Cina berhari raya, orang Melayu yang mabuk )

Kalimat diatas memang tak sempat aku sampaikan kepada Pak Mayjen karena keterbatasan waktu. Karena memang bukanlah masalah kerukunan yang menghantui masyarakat Natuna. Kedamaian itu sudah ada sejak lama. Mengalir begitu saja. Mungkin karena mayoritas masyarakat di kampungku adalah penganut “Islam tradisional” yang sangat berpegang kepada ajaran Wa luna a’ma luna, walukum a’ma lukum (bagiku agamaku, bagimu agamamu). Sehingga tak terusik oleh riuh rendahnya persoalan SARA yang sering terjadi di Jakarta.

Tapi karena ini sebuah dialog, aku harus menyampaikan sesuatu yang sesuai dengan konteks pertemuan tersebut.

“ Saya percaya dengan suatu pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada strategi pertahanan yang benar-benar efektif di daerah-daerah perbatasan sebuah negara, kecuali meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,…..”

Kusampaikan kalimat tersebut dengan segala hormat kepada Pak Mayjen dan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dengan nilai TOEFL rata-rata 500…. Sebelum aku berkisah lebih dalam lagi tentang Inside Natuna perkenankan aku mengucapkan terima kasih atas silaturahmi kawan-kawan IDU ke ujung negeri ini.

Bersambung…..

0 comments:

Post a Comment

My Blog List