Kisah Sepanjang Jalan (4)

Indonesia VS Malaysia….sebuah perebutan memenangkan hati Melayu di pinggiran negeri.

Tentu saja dengan cuaca seperti ini, hujan lebat disertai angin kencang membuat kami berhenti untuk melanjutkan pekerjaan pengecoran. Numpang berteduh di sebuah warung kecil di pinggir jalan itu adalah sebuah pilihan yang tepat.

Sambil menunggu hujan reda, akhirnya kami bermain santing (domino / gapleh ) sambil ngobrol ngalor ngidul.


“ Bong, kemaren aku lihat banyak orang di pelabuhan. Ada tamu ya bong ?”

“ Iya….”

“ Siapa bong ? “

“ Anu,….rombongan professor dari salah satu universitas di Malaysia “.

“ Wah,….ngapain mereka kemari ? “

“ Pidato di SMAN 1…lalu menawarkan bantuan kuliah gratis di Malaysia.”

“ Ohhh,….syaratnya apa bong ? ”

“ Gak ada,…yang penting tamat SMA “

Hujan pun reda, walaupun masih tersisa awan hitam di langit kami melanjutkan pekerjaan. Sambil berharap semoga langit berhenti menangis.

Seminggu kemudian,…..

“ Pak,..dengan memohon sepuluh jari…tolonglah bantu anak-anak kami agar bisa diterima kuliah di universitas pertahanan,…” ujar Pak Camat dengan suara yang tulus mewakili harapan dari orang-orang tua kami yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Jadi begini bapak-bapak , ibu-ibu, para hadirin yang terhormat,…..untuk melanjutkan pendidikan di universitas kami tentunya harus memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya adalah nilai TOEFL calon mahasiswa haruslah 550. Karena bahasa pengantar di kampus kami adalah bahasa Inggris. Persyaratan lainya adalah,………………………………………..” demikian penjelasan dari salah seorang narasumber dengan bersemangat.

“ kalau begitu kuliah di Malaysia saja,…lebih mudah.” Celetuk seorang senior di kampungku, tanpa senyum sambil terus menghisap rokoknya……………………………………… bersambung.

0 comments:

Post a Comment

My Blog List