
Children of a culture born in a water-rich environment, we have never really learned how important water is to us. We understand it, but we do not respect it. ( WILLIAM ASHWORTH )
Tentu saja kita merasa heran, mengapa masalah yang paling penting bagi keberlangsungan hidup segala makhluk hidup ini tidak mendapat prioritas dalam setiap kebijakan pembangunan, termasuk di Kabupaten Natuna, khususnya lagi di koordinat 1070 59’ 26,8” - 1080 2’ 44,5” Bujur Timur dan 30 45’ 26,7” – 30 49’ 47,3” Lintang Utara alias Pulau Sedanau yang luas wilayahnya kurang lebih 448,46 km2
Heran karena bagaimana masalah yang demikian penting, yang menyebabkan gigi masyarakatnya banyak yang sangang di usia muda tidak mendapat perhatian yang serius dari para wakil rakyat dan Pemkab Natuna ?
Pulau Sedanau hanyalah salah satu contoh betapa lambatnya Pemkab Natuna membangun pusat pengolahan air bersih untuk masyarakatnya. Bagaimana dengan pulau-pulau kecil lainnya. Sampai kapankah masyarakat di pinggirin negeri ini terus dibiarkan untuk mengkonsumsi air tanah dengan kualitas jelek ?
Memang saat ini di Sedanau telah di bangun water treatment dengan biaya yang besar. Kabarnya sudah menelan anggaran lebih dari Rp. 3.000.000.000,- Namun sudah hampir empat tahun berlalu tetap saja air bersih yang diharapkan tidak kunjung mengalir ke dapur-dapur masyarakat.
Memang saat ini sedang dibangun semacam embung yang menelan biaya Rp.3.400.000.000,- Tapi sekali lagi sampai kapan pembangunan embung itu akan rampung dan darimana sumber air untuk memenuhi embung tersebut ? Padahal hasil Pengkajian Hidrogeologi Potensi Air Tanah di Pulau Sedanau, yang tingkat kepadatan penduduknya 24,29 orang/km2 tersebut terindikasi memiliki kandungan air yang kecil.
Dan sebenarnya There are three parts to water supply yaitu : source - treatment - distrubution. Sedangkan yang terjadi di Pulau Sedanau adalah : Bangun Treatment-nya dulu – lalu kalang kabut mencari Source-nya – dan Insya Allah Distribution-nya kapan-kapan ya ?...........................bersambung
NATUNAPEDIA :
Sangang = Ompong
Yang penting proyek turun, dana cair. Itu yang ada di benak aparatur...
ReplyDeleteMasalah ini sudah " BIAS " sekali Bong...Antara Teori dan Praktek di lapangan berbeda jauh, ada faktor kepentingan ekonomi elit penguasa dan pengusaha yg bermain dibelakangnya. Seharusnya mereka menghentikan kegiatan saling melempar Celana Dalam ke atap rumah.
ReplyDeleteMarlina :
ReplyDeletekebiasaan lama ya De ? entah kapan akan berubah.
Ndansrex :
Betul ndan,..sedih dan prihatin ndan. Mending kalo celananya ber-merk...xixixi