Shalawatku Laguku, Relaksasiku

Menyisihkan sedikit waktu untuk hal-hal yang kita sukai memang akan menimbulkan ketenangan fikir dan batin yang tentunya akan menimbulkan semangat baru keesokan paginya.

Lalu bermunculanlah lagu-lagu instrumentalia berkategori lagu relaksasi. Sebuah lagu tanpa kata yang bisa menghadiri ketenangan yang dimaksud.

Dan pilihan lainnya untuk berelaksasi untuk mendatangkan ketenangan fikir dan batin adalah dengan tenggelam dalam alunan shalawat. Cobalah sisihkan waktu, berbaring dan pejamkan mata untuk mendengarkan berbagai jenis Shalawat. Resapi makna dan ikuti iramanya. Rasakan kehadiran-Nya dalam hati.

Walaupun sudah berkali-kali didengar namun tak terasa air mataku menetes lagi dan lagi, saat berelaksasi mendengarkan lantunan Shalawat Astaghfirullah oleh Cak Nun,…..sungguh menggugah,….. Astaghfirullah sungguh membuat aku berfikir betapa dhoifnya diri ini di hadapan kebesaran-Nya.

Astaghfirullah Robbal Barroya. Astaghfirullah Minal Khotoya. Sungguh mendatangkan ketenangan………



Shalawat Astaghfirullah : Emha Ainun Nadjib

Astaghfirullah Rabbalbarayaa

Astaghfirullah minalkhathaayaa

Ya Allah Gusti, nyuwun pangaksami

Sampun dangu kulo, ninggalke agami

Infak shodaqah, lan kitab suci

nyuwun tuntunan, ilahi rabbi

Astaghfirullah Rabbalbarayaa

Astaghfirullah minalkhathaayaa

Ya Allah Gusti, Kang ndamel jagat

Kathah bilahi, kawulo sambat

Punopo cobo, punopo laknat

Istighatsah lan maos shalawat

Astaghfirullah Rabbalbarayaa

Astaghfirullah minalkhothayaa

Ya Allah Gusti, kang moho tartil

Paringo imam, jujur lan adil

Negoro aman, songko wong jahil

Agomo adoh, akale kancil

Astaghfirullah Rabbalbarayaa

Astaghfirullah minalkhothayaa

Bukankah Kita Memandang Bulan Yang Sama ?

Di depan rumahku ada seorang pedagang asal Sumatera Barat. Hari ini perantau muda ini sudah berlebaran.

“Bong, besok saya sudah mengakhiri puasa.Besok kami sekeluarga sudah berlebaran.” Ujarnya usai sholat Maghrib kemarin.

“Oh ya,…kalau begitu Selamat Berlebaran ya. Mohon saya dimaafkan lahir dan batin. Cuma saya juga minta maaf besok belum dapat berkunjung. Soalnya saya lebarannya hari Rabu.Dan sekedar mengingatkan besok mesjid akan masih sepi…tanpa kumandang takbir hehehe.” Kami pun bersalaman.

Memang di pulau kecil tempatku bermukim mayoritas penduduknya adalah muslim. Dalam hal menentukan tanggal lebaran setiap tahunnya selalu patuh terhadap keputusan pemerintah. Ini sudah menjadi tradisi. Walaupun sore kemaren sudah ada yang terlanjur merebus ketupat tetap saja lebarannya pada hari Rabu sesuai dengan keputusan pemerintah.

Padahal kita memandang bulan yang sama, padahal kita berpijak pada tanah yang sama. Padahal kita berhadist dengan hadist yang sama, pada hal kita ber-Alquran dengan Alquran yang sama. Semoga ke depan penetapan 1 Syawal tidak berbeda agar tetanggaku tadi bisa menikmati merdunya takbir di pagi lebaran dan tenggelam dalam khusyuk bersama saudara-saudara lainnya. Amin.


Puisi Shalawat : KH. Mustofa Bisri


Ya Rasulullah shalawat dan salam bagi Paduka

Dari kedua mataku yang menggenang air mata dan darah

Serasa kulihat manik-manik mutiara berkilauan di kedua mata Paduka yang indah

Paduka pasti terluka …memandang kelakuan kami,…. Paduka pasti berduka

Oh Rasulullah oh Kekasih

Ampun,…bukan kami hendak mempermalukan Paduka

Tapi kami tak sekuat Paduka

Dunia telah menguasai diri kami

Padahal Paduka telah berulang kali mengingatkan….

Kami terlalu memanjakan daging-daging dan mengabaikan sukma-sukma kami

Kami terlalu sibuk membela kepentingan sendiri

Berebut materi sambil meneriakkan nama-Nya dan nama Paduka

Maka kami pun tak bisa mendengar suara paduka yang merdu menghimbau penuh kasih sayang

Mengajak saling menyayang

Ya Rasulullah shalawat dan salam bagi Paduka

Mereka yang tak mau mendengar Paduka

Tak percaya kebahagiaan hakiki yang Paduka tunjukan

Telah mengejar kebahagiaan semu mereka sendiri

Dan mereka harus membuktikan kekeliruan mereka dalam kepahitan azab penderitaan

Oh alangkah malang,…oh alangkah sayang

Tak ada kebahagiaan pada daging yang dimanjakan

Tak ada kebahagiaan pada kepentingan sesaat

Tak ada kebahagiaan pada kepentingan sendiri yang dimenangkan

Tak ada kebahagiaan pada kenikmatan singkat

Tak ada kebahagiaan pada pada api yang membakar

Tak ada kebahagiaan pada darah yang tertumpah

Tak ada kebahagiaan pada dendam yang diumbar

Tak ada kebahagiaan pada kobaran amarah

Tak ada kebahagiaan pada puing-puing berasap

Tak ada kebahagiaan pada tangis dan ratap

Tak ada kebahagiaan pada gagasan kebahagiaan …kecuali yang telah Paduka tunjukkan

Oh Rasulullah oh Kekasih

Kami terlalu mencintai diri kami hingga mencelakakannya

Ternyata paduka lebih mencintai diri kami

Ya Rasulullah ….shalawat dan salam bagimu selalu

Seloka Hari Raya

Penyanyi : Hail Ameer & Uji Rashid


Indahnya sungguh di hari raya

Ramainya orang bersuka ria

Adikku manis cantik bergaya

Bolehkah abang ikut bersama


Usahlah abang membuang waktu

Mari menuju ke rumah bonda

sanak saudara sedang menunggu

Di hari mulia bertemu mesra


Katamu itu abang mengerti.

Kusanjung Budi Puteri Ibunda

Pada yang tua kita hormati

Barulah hidup saling bahagia


Miskin dan kaya sama sahaja

Ulur kan tangan berjabat mesra

Saling bermaaf kita bersama

Lupakan saja sengketa lama




Dari jauh kumohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah kulakukan,.....Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mari bergembira, mari bermaaf-maafan,........iiihaaa......(bongjun)



Tafakurku

Diparuh terakhir Ramadhan kali ini. Ditengah heningnya malam, kucoba bertafakur. Diirringi syahdunya shalawat Astaghfirullah lantunan Kyai Haji Emha Ainun Nadjib.

Sepadankah tetesan air mata ini dibandingkan dengan kejahilan yang telah kuperbuat Ya Allah ?

Sepadankah linangan air mata ini dibandingkan dengan betapa banyak riya’ yang telah kulakukan Ya Allah ?

Sepadankah tumpahan air mata ini dibandingkan dengan kealfaanku yang tanpa kusadari masih terus terjadi Ya Allah ?

Astaghfirullah Robbal Barroyaa, Astaghfirullah Minal Khotoyaa

Astaghfirullah Robbal Baroyaa,….airmataku tumpah,…. Astaghfirullah Minal Khotoyaa,….sepadankah ?

Ihdinashiratolmustakim Ya Allah.

Tak Ingin Jadi Anak Soleh

Tak ada yang berubah dengan lelaki itu, di usianya yang sudah lebih dari 60 tahun ia tetap ragu akan keberadaan Tuhan.

“ Terlalu sulit untuk memahami Tuhan itu. Semuanya abstrak, semu,….” Celetuknya

“ Jika memahami Tuhan hanya semata-mata dengan akal tentu akan susah “ kucoba menjawab untuk memancing reaksi berikutnya dari lelaki yang pemurah, suka memberi namun tangan kirinya tidak pernah tahu. Sungguh lelaki itu adalah seorang yang pemurah namun tak ramah.

Ia tak segera mengkomentari jawabanku tadi. Dilain hari ia juga memprotes hukum haram memakan babi. Ia menganggapnya itu hanyalah sebuah “kebijakan” dari seorang pria Arab yang bernama Muhammad yang memang tidak suka makan babi.

“Ngapain mengikuti kebijakan Muhammad,…lihatlah Yesus dan Budha tidak melarang makan babi. “

“ Jadi begini Pak Soleh,….hukum haram makan babi itu bukan kebijakan dari Muhammad SAW tapi tertulis dalam Alquran. Masalah ini tidak ada keraguan lagi. Bukankah sejak kecil Pak Soleh sudah tahu ? Mengenai ajaran Yesus tentang ini saya tidak tahu dan tidak punya kapasitas untuk menjelaskannya, tapi di dalam Kitab Perjanjian Lama Surat Imamat disebutkan bahwa :

Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. (11:7)

Dan juga pada Surat Ulangan :

Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya. (14:8).

“Lalu bagaimana dengan pendapat Budha ? Tanya lelaki yang memang bernama Soleh itu.

“Saya tidak tahu ajaran Budha pak Soleh,….tapi bukankah Budha menghimbau umatnya untuk tidak memakan semua yang berdarah ? Dan bukankah babi termasuk binatang yang berdarah ? Tapi ini hanyalah sebuah tafsir dari saya pak…...”

Soleh mengangguk dengan tatapan yang masih diselimuti keraguan. Dan sungguh aku tidak ingin menjadi anak Soleh atau menjadi seperti Soleh. Di usia senjanya masih tetap berkutat dengan keraguan terhadap keberadaan Tuhan.

“ Ya Allah jangan butakan hatiku, jangan tulikan telingaku,……untuk selalu menerima kebenaran dari Mu”

Untuk Sebuah Nama

Alhamdulillah Lewat Facebook, aku yang tinggal di pulau yang bersempadan dengan negerinya Siti Nurhaliza dapat mengikuti perkembangan pergolakan pemikiran tentang Indonesia tanah airku.Dan lewat jalur maya ini aku bisa menikmati beragam tulisan dari sahabat-sahabatku yang bahkan sekalipun belum pernah bertatap muka,….tentang apa saja. Sesuatu yang mustahil bisa kulakukan saat Ebiet G Ade masih sering tampil di TVRI, bersenandung tentang Camelia,…oh… Camelia. Era dimana Pak Harmoko selalu tampil dengan laporan tentang harga-harga sembako di pasar induk tepat jam 7 malam.

Indonesia tentu saja saat ini sudah memiliki pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyatnya. Tapi adakah sang pemimpin terpilih telah bersemayam dihati para jelata ? disebut dengan rasa kagum dan disapa dengan rasa hormat yang mendalam ?

Nampaknya belum. Masih banyak perdebatan. Utamanya dari golongan yang berpikir. Dan ke depan ada sebuah nama yang terus akan diperbincangkan dengan rasa hormat, bangga dan rasa kagum. Namun juga disikapi dengan rasa khawatir, cemburu dan dengki…..

Sebuah nama yang diperbincangkan oleh kaum agama, kaum intelektual, kaum nasionalis, kaum abangan bahkan kaum Atheisme. Bahkan dipertengkarkan dengan sengit …..siapakah yang layak untuk mengusungnya untuk memimpin negeri ini dengan tegas dan berintegritas ?. Dan sesungguhnya di sanubari masing-masing kaum tersebut tersimpan sebuah harapan yang sama…sebuah harapan yang besar.

Lalu seorang jelata dipinggiran negeri yang kutemui pagi ini dengan segala keterbatasannya berujar,…”Mudah-mudahan Bu Sri Mulyani bersedia memimpin negeri ini”

Selamat Ulang Tahun Bu Sri Mulyani Indrawati. Semoga senantiasa dalam lindungan dari Allah Yang Maha Kuasa.

Salam dari pulau.

Bukankah Puasa Itu Antara Aku dan Tuhanku ?

“Yah,..hari ini Dinda puasanya penuh lho..?”

Tentu saja aku terkejut dengan ucapan anak bungsuku yang baru duduk di kelas 2 SD yang lahir pada tahun 2004 yang lalu.

“Wah hebat dong,..” ujarku dengan perasaan yang sangat bahagia. Bahagia karena mengingat aku tidak pernah menyuruhnya berpuasa penuh. Aku hanya menghimbau kepada anak-anakku untuk mencoba berpuasa setahannya. Dan Dinda di minggu pertama di bulan yang penuh berkah ini kuperhatikan hanya mampu berpuasa setengah hari,….itu pun setengah hari yang aneh karena jam 9 pagi sudah merengek minta makan. Tapi tidak di hari-hari belakangan ini menjelang tutupnya bulan seribu bulan.

Dan siang itu di tengah teriknya panas matahari, aku mencoba menggoda Dinda,….

“Din,..kalau lapar makan saja…?”

“Nggak lah Yah,…kan bedug maghrib belum bunyi ” jawab si bungsuku sambil terkekeh. Padahal kuperhatikan badannya lemes.

Jika saja nanti Dinda sudah akil baliq nanti tentu saja tugasku berikutnya adalah melengkapi pemahamannya tentang puasa bahwa :

Puasa itu tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Karena ada perintah untuk melatih kesabaran. Sehingga kita tidak perlu memarahi orang-orang yang belum berpuasa,….menutup warung-warung hingga yang terlihat hanya kaki-kaki yang tidak jelas. Seandainya saja warung-warung tidak tertutup mungkin saja jumlah kaki-kaki yang tidak jelas tadi akan berkurang karena tidak enak hati. Terlebih-lebih lagi jangnlah sampai melakukan sweeping “atas nama Tuhan”.

Bukankah Puasa itu antara aku dan Tuhanku ?

Ngeblog Lagi

Rasanya aku ada janji yang belum kutunaikan. Yaitu janji kepada dua sahabatku Dee penghuni rumah kayu dan

A5H (baca Alimah) untuk terus menulis / ngeblog. Dan janji adalah hutang,….

Sebetulnya ada banyak kisah kehidupan yang bisa ditulis, namun kesibukan mencari nafkah buat anak istri tercinta memaksa waktuku tersita, sehingga kisah-kisah kehidupan tersebut hanya berkutat di kepala. Dalam pikiran.

Dan bongjun.com Insya Allah akan tampil dengan format baru. Sebuah format yang kuyakini tidak akan membuat para pembaca mengernyitkan dahi karena rumit, sebuah format yang tidak akan membuat mata para pembaca menjadi lelah karena panjangnya tulisan. Sebuah tulisan yang sederhana dan dengan cerita yang pendek. Pendek sekali. Dan ini sebenarnya hanyalah sebuah dalih dari ketidakmampuanku untuk menulis yang rumit seperti tulisan Pak Goenawan Mohamad hahahaha,….

Selamat menikmati

My Blog List