
Don’t learn safety rules simply by accident,…..kesoi deh…!
Sebenarnya bukanlah sebuah kebanggaan saat aku menceritakan betapa perempuan-perempuan di kampungku berpartisipasi dalam pembangunan fisik. Karena disisi lain akan terbaca dengan mudah bahwa betapa kemiskinan masih menghantui di ujung negeri ini. Karena sesungguhnya perempuan-perempuan tersebut terpaksa melakukan pekerjaan seperti memecah batu.
Mungkin sudah ribuan kubik batu-batu keras tersebut berhasil dipecahkan menjadi kerikil lewat tangan perempuan-perempuan pekerja keras tersebut. Lalu dimanakah anak-anak mereka pada saat “nutok botu” yang menyita siang mereka ? Lalu dengan cara bagaimanakah anak-anak mereka tumbuh ? padahal disaat yang bersamaan sang ayah juga terpaksa harus melaut tak tentu siang maupun malam.
Demi sebuah peningkatan kualitas kehidupan masyarakat di ujung negeri………
“ Pulau Bunguran ( Natuna )memerlukan kehadiran seorang jenderal pak….” Ujarku kepada pak Kasdim dan Kasintel AD Natuna saat melayat almarhum Pak Azra’i,.
Almarhum adalah seorang anggota TNI berpangkat Kopral Kepala, dikenal sangat dekat dengan masyarakat di kampungku. Selalu saja ada joke segar yang pak Azra’i lontarkan saat bertemu di kedai-kedai kopi. Beliau juga seorang pekerja keras dan teman yang setia.
Persamaan jenis rambut kami yang selalu tegak walau sekencang apapun angin bertiup membuat pak Azra’i mengajak aku bergabung dengan organisasi Orari ( Organisasi Rambut Berdiri )….dan ini adalah salah satu joke yang terus akan kuingat.
Dan tentu saja aku harus menjelaskan lagi maksud dari “kehadiran seorang jenderal di Pulau Bunguran” kepada Pak Kasdim dan Pak Kasintel AD tersebut.
“ Seperti kita ketahui bersama bahwa Natuna berada tepat di tengah pusaran konflik klaim batas-batas wilayah dari berbagai negara. Belum ada tanda-tanda konflik tersebut akan segera berakhir dan menemui kesepakatan. Untuk menghadirkan seorang jenderal di Pulau Bunguran yang lautnya dikenal sebagai salah satu daerah penyumbang devisa terbesar dari sekor migas ini,….Kabupaten Natuna haruslah dimekarkan lagi.”
Pak Kasdim terdiam, mungkin beliau berpikir apa hubungannya antara memekarkan lagi Natuna dengan kehadiran seorang jenderal di Pulau Bunguran ?. Tanpa memberi peluang pak Kasdim untuk bertanya aku melanjutkan curhat malam itu,…..
“ Jika saja sudah terbentuk beberapa kabupaten lagi di wilayah Natuna, maka dengan sendirinya akan mudah untuk membentuk sebuah Propinsi. Jika nanti sebuah Propinsi yang berbasiskan sektor kelautan dan perikanan sudah terbentuk, bukankah kehadiran seorang jenderal menjadi sebuah keharusan ?
Karena kebutuhan Natuna saat ini bukanlah sekedar membangun ….tapi PERCEPATAN PEMBANGUNAN yang tentu saja sulit tercapai jika hanya ada satu pemerintahan daerah saja. Wewenang seorang bupati saja tidak cukup untuk MEMPERCEPAT pembangunan di ujung utara negeri ini………dan karena Natuna berada disilang konflik dunia…..dan karena Natuna adalah Indonesia maka PERCEPATAN PEMBANGUNAN dan KEHADIRAN SEORANG JENDERAL DI PULAU BUNGURAN sangat diharapkan. Sebelum nasionalisme rakyat dipinggiran negeri semakin melemah karena kemsikinan !”……………….……bersambung
NATUNAPEDIA
Kesoi = Capek
Nutok Botu = Memecahkan batu



