Kisah Sepanjang Jalan (5)


Don’t learn safety rules simply by accident,…..kesoi deh…!

Sebenarnya bukanlah sebuah kebanggaan saat aku menceritakan betapa perempuan-perempuan di kampungku berpartisipasi dalam pembangunan fisik. Karena disisi lain akan terbaca dengan mudah bahwa betapa kemiskinan masih menghantui di ujung negeri ini. Karena sesungguhnya perempuan-perempuan tersebut terpaksa melakukan pekerjaan seperti memecah batu.

Mungkin sudah ribuan kubik batu-batu keras tersebut berhasil dipecahkan menjadi kerikil lewat tangan perempuan-perempuan pekerja keras tersebut. Lalu dimanakah anak-anak mereka pada saat “nutok botu yang menyita siang mereka ? Lalu dengan cara bagaimanakah anak-anak mereka tumbuh ? padahal disaat yang bersamaan sang ayah juga terpaksa harus melaut tak tentu siang maupun malam.

Demi sebuah peningkatan kualitas kehidupan masyarakat di ujung negeri………

Pulau Bunguran ( Natuna )memerlukan kehadiran seorang jenderal pak….” Ujarku kepada pak Kasdim dan Kasintel AD Natuna saat melayat almarhum Pak Azra’i,.

Almarhum adalah seorang anggota TNI berpangkat Kopral Kepala, dikenal sangat dekat dengan masyarakat di kampungku. Selalu saja ada joke segar yang pak Azra’i lontarkan saat bertemu di kedai-kedai kopi. Beliau juga seorang pekerja keras dan teman yang setia.

Persamaan jenis rambut kami yang selalu tegak walau sekencang apapun angin bertiup membuat pak Azra’i mengajak aku bergabung dengan organisasi Orari ( Organisasi Rambut Berdiri )….dan ini adalah salah satu joke yang terus akan kuingat.

Dan tentu saja aku harus menjelaskan lagi maksud dari “kehadiran seorang jenderal di Pulau Bunguran” kepada Pak Kasdim dan Pak Kasintel AD tersebut.

“ Seperti kita ketahui bersama bahwa Natuna berada tepat di tengah pusaran konflik klaim batas-batas wilayah dari berbagai negara. Belum ada tanda-tanda konflik tersebut akan segera berakhir dan menemui kesepakatan. Untuk menghadirkan seorang jenderal di Pulau Bunguran yang lautnya dikenal sebagai salah satu daerah penyumbang devisa terbesar dari sekor migas ini,….Kabupaten Natuna haruslah dimekarkan lagi.”

Pak Kasdim terdiam, mungkin beliau berpikir apa hubungannya antara memekarkan lagi Natuna dengan kehadiran seorang jenderal di Pulau Bunguran ?. Tanpa memberi peluang pak Kasdim untuk bertanya aku melanjutkan curhat malam itu,…..

“ Jika saja sudah terbentuk beberapa kabupaten lagi di wilayah Natuna, maka dengan sendirinya akan mudah untuk membentuk sebuah Propinsi. Jika nanti sebuah Propinsi yang berbasiskan sektor kelautan dan perikanan sudah terbentuk, bukankah kehadiran seorang jenderal menjadi sebuah keharusan ?

Karena kebutuhan Natuna saat ini bukanlah sekedar membangun ….tapi PERCEPATAN PEMBANGUNAN yang tentu saja sulit tercapai jika hanya ada satu pemerintahan daerah saja. Wewenang seorang bupati saja tidak cukup untuk MEMPERCEPAT pembangunan di ujung utara negeri ini………dan karena Natuna berada disilang konflik dunia…..dan karena Natuna adalah Indonesia maka PERCEPATAN PEMBANGUNAN dan KEHADIRAN SEORANG JENDERAL DI PULAU BUNGURAN sangat diharapkan. Sebelum nasionalisme rakyat dipinggiran negeri semakin melemah karena kemsikinan !”……………….……bersambung

NATUNAPEDIA

Kesoi = Capek

Nutok Botu = Memecahkan batu

Kisah Sepanjang Jalan (4)

Indonesia VS Malaysia….sebuah perebutan memenangkan hati Melayu di pinggiran negeri.

Tentu saja dengan cuaca seperti ini, hujan lebat disertai angin kencang membuat kami berhenti untuk melanjutkan pekerjaan pengecoran. Numpang berteduh di sebuah warung kecil di pinggir jalan itu adalah sebuah pilihan yang tepat.

Sambil menunggu hujan reda, akhirnya kami bermain santing (domino / gapleh ) sambil ngobrol ngalor ngidul.


“ Bong, kemaren aku lihat banyak orang di pelabuhan. Ada tamu ya bong ?”

“ Iya….”

“ Siapa bong ? “

“ Anu,….rombongan professor dari salah satu universitas di Malaysia “.

“ Wah,….ngapain mereka kemari ? “

“ Pidato di SMAN 1…lalu menawarkan bantuan kuliah gratis di Malaysia.”

“ Ohhh,….syaratnya apa bong ? ”

“ Gak ada,…yang penting tamat SMA “

Hujan pun reda, walaupun masih tersisa awan hitam di langit kami melanjutkan pekerjaan. Sambil berharap semoga langit berhenti menangis.

Seminggu kemudian,…..

“ Pak,..dengan memohon sepuluh jari…tolonglah bantu anak-anak kami agar bisa diterima kuliah di universitas pertahanan,…” ujar Pak Camat dengan suara yang tulus mewakili harapan dari orang-orang tua kami yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Jadi begini bapak-bapak , ibu-ibu, para hadirin yang terhormat,…..untuk melanjutkan pendidikan di universitas kami tentunya harus memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya adalah nilai TOEFL calon mahasiswa haruslah 550. Karena bahasa pengantar di kampus kami adalah bahasa Inggris. Persyaratan lainya adalah,………………………………………..” demikian penjelasan dari salah seorang narasumber dengan bersemangat.

“ kalau begitu kuliah di Malaysia saja,…lebih mudah.” Celetuk seorang senior di kampungku, tanpa senyum sambil terus menghisap rokoknya……………………………………… bersambung.

Kisah Sepanjang Jalan (3)



Di saat jam makan siang, kami berkumpul di bawah sebuah pohon yang cukup rindang untuk menyantap nasi bungkus dari warung Padang yang bernama Awak. Pekerjaan pengecoran jalan tersebut memang cukup melelahkan para pekerja. Dan saat makan siang adalah waktu yang tepat untuk berbagi cerita dengan sesama pekerja.

Sebetulnya kebanyakan dari mereka adalah para nelayan tradisional. Terpaksa harus bekerja sebagai buruh bangunan di saat laut tak lagi ramah seperti saat ini.

Pada saat lunch time di bawah pohon yang rindang di tepi jalan itulah aku mendengar banyak kisah tentang para pekerja yang barangkali luput dari hitungan Badan Pusat Statistik Kab.Natuna. Bahwa betapa masih banyaknya kemiskinan di kampung ini.

Dari 15 pekerja, 13 orang mengaku tidak punya tabungan sama sekali.

“ Bagaimana mau menabung bong,….penghasilan kami hanya cukup untuk memberi makan anak bini.”

Dan Sabtu kemarin 19/11/2011, kampung yang selalu damai tersebut kedatangan tamu dari Jakarta. Serombongan mahasiswa dari Indonesia Defense University (IDU) yang dipimpin oleh Mayjen TNI Ir. Ricardo M.H. Siagian, MT, Komandan Sekolah Manajemen Pertahanan (SMP).

Tentunya ini sebuah kehormatan bagi kampung kami. Dalam acara dialog dengan para intelektual muda harapan bangsa tersebut aku berkesempatan untuk menyampaikan,…atau tepatnya meneruskan curahan hati para pekerja di atas. Berusaha memberikan masukan tentang Inside Natuna. Fakta yang tidak akan kubungkus dengan indahnya bahasa.

Pak Mayjen Ricardo tentu tidak sedang berbasa-basi saat mengatakan bahwa beliau sangat kagum dengan kerukunan antar suku dan umat beragama di pulau Sedanau. Ada ungkapan di kampungku yang sangat popular untuk menggambarkan kerukunan dan kedamaian tersebut yaitu :

Cine ghaye melayu mabuk ( Orang Cina berhari raya, orang Melayu yang mabuk )

Kalimat diatas memang tak sempat aku sampaikan kepada Pak Mayjen karena keterbatasan waktu. Karena memang bukanlah masalah kerukunan yang menghantui masyarakat Natuna. Kedamaian itu sudah ada sejak lama. Mengalir begitu saja. Mungkin karena mayoritas masyarakat di kampungku adalah penganut “Islam tradisional” yang sangat berpegang kepada ajaran Wa luna a’ma luna, walukum a’ma lukum (bagiku agamaku, bagimu agamamu). Sehingga tak terusik oleh riuh rendahnya persoalan SARA yang sering terjadi di Jakarta.

Tapi karena ini sebuah dialog, aku harus menyampaikan sesuatu yang sesuai dengan konteks pertemuan tersebut.

“ Saya percaya dengan suatu pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada strategi pertahanan yang benar-benar efektif di daerah-daerah perbatasan sebuah negara, kecuali meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,…..”

Kusampaikan kalimat tersebut dengan segala hormat kepada Pak Mayjen dan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dengan nilai TOEFL rata-rata 500…. Sebelum aku berkisah lebih dalam lagi tentang Inside Natuna perkenankan aku mengucapkan terima kasih atas silaturahmi kawan-kawan IDU ke ujung negeri ini.

Bersambung…..

Kisah Sepanjang Jalan (2)

Nancy Reagan benar saat mengatakan :

Woman are like tea-bags, you never know how strong they are until they are in hot water.”

Siang itu panas menyengat. Ini membuat pekerjaan mengikat besi yang berukuran 8 mm sebagai tulang untuk semenisasi jalan itu berjalan kian melambat. Jarak jalinan dari besi ke besi 15 cm, cukup rapat. Sebatang besi itu panjangnya 12 meter. Padahal hari ini para lelaki perkasa tersebut hanya mengikat dua sambungan besi, 24 meter. Tapi dari pagi hingga siang ini baru separuh yang terjalin dan diikat. Sangat lambat. Selain panas matahari, para pekerja yang rata-rata adalah perokok berat tetap merokok saat working hours juga menjadi penyebab lambatnya pekerjaan tersebut. Belum lagi kalau ada perempuan yang lewat, maka aksi mendoi para pria berotot itu juga menyita waktu.


“ Jun,…coba kami perempuan yang mengikat besi” pinta perempuan beranak 2 itu.

Tentu saja aku ragu dengan keinginan perempuan tersebut.

“ Tolonglah beri kesempatan kami untuk ikut bekerja mengikat besi. Sebentar lagi kan hari raya Idul Adha, kami perlu duit buat bikin kue dan beli baju anak.”

Akupun menyerah,…

“ Oke, berapa orang yang sanggup bekerja ?” tanyaku dengan ragu.

“ Kamu perlu berapa orang ?”

“ Hmmm,…sekitar enam orang “

Aoklah,…kapan kami mulai kerja ?”

“ Besok,…..tapi ada syaratnya.”

“ Aduh masak ngikat besi saja ada syaratnya ?,…apa syaratnya ? Tanya perempuan tersebut.

“ Tolong bilang sama kawan-kawan jangan pakai celana sighah…..ya ? ”

“ hahahaha,…aoklah.” Perempuan itu berlalu sambil tetap cekikikan.

Dan enam perempuan yang saya yakin betul status di KTP-nya pastilah URT ( Urusan Rumah Tangga ) ternyata mampu mengikat besi sepanjang 4 sambungan, kurang lebih 48 meter dalam waktu sehari. Sangat efektif. Tanpa kepulan asap rokok disaat bekerja dan ndok mendoi saat ada lelaki yang lewat.

Kalau saja anak-anak dari perempuan-perempuan yang tangguh tersebut mengetahui betapa besar cinta dan pengorbanan ibunya kepada mereka sehingga seperti kata Marrion C.Garetty,…

Mother love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible.

Tentulah mereka akan sangat menghormati ibunya dengan cara belajar yang benar, terutama bagi yang sedang kuliah atau tidak menghisap lem fox seperti yang terjadi pada seorang pelajar yang baru duduk di bangku SMP , yang kebetulan juga bermukim diporos jalan tersebut sehingga hidungnya mengeluarkan darah terus menerus,…….Bersambung.


NATUNAPEDIA :

Mendoi = Menggoda wanita

Ndok = Tidak

Aoklah = Iyalah

Sighah = Sobek

Kisah Sepanjang Jalan (1)


Terima dan hadapilah semua tantangan agar kau bisa merasakan kegembiraan dan kenikmatan sebuah "kemenangan". ( G eorge S. Patton )

Ini musim “ber-beran”, artinya musim penghujan akan melanda pulau di ujung negeri ini. Dan seperti biasa proyek-proyek fisik seperti pembangunan jalan dan gedung baru saja dimulai. Tepat ditengah musim hujan dengan curah sedang sampai lebat dan laut bergolak.

Saat seperti ini biasanya para nelayan tradisional yang kini walaupun sudah mulai memakai peralatan modern seperti GPS tidak bisa melaut sehingga banyak yang nyambi ikutan kerja proyek daripada nganggur. Me too,..

Dan kisah-kisah sepanjang 600 x 6 meter jalan yang kami bangun juga tak luput dari tantangan musim tersebut. Tantangan lainnya adalah mengelola 15 manpower yang rata-rata adalah para nelayan yang memang bukan pekerja bangunan.

Semenisasi beton bertulang di jalan tersebut menurut Surat Perintah Mulai Kerjanya dimulai 08-08-2011 dengan batas waktu pengerjaannya sampai tanggal 25 Desember 2011 nanti. Kurang lebih 140 hari kerja.

Namun untuk meningkatkan tantangan dan menambah “penderitaan” para pekerja , aku mentargetkan harus selesai sebelum Idul Adha yang lalu ,….dan pekerjaan tersebut baru kami mulai tanggal 5 September 2011 lalu dan selesai tepat sehari sebelum Idul Adha tangggal 5 Nopember 2011. Alhamdulillah hari raya kemaren jalan kampung tersebut tak lagi licak dan para perempuan berbaju kurung Melayu nyaman memakai high heels alias sepatu tumet tinggi.

Dan sebuah kisah bisa mulai ditulis dari bagian mana saja dari sebuah kisah tersebut,……

Bersambung.


NATUNAPEDIA :

Licak = Becek

Tumet = Tumit

My Blog List